Loading...
img

Berita Terkini

img
Hari Ular Sedunia: Fakta dan Mitos tentang Ular, Mana yang Benar?

Halo Sobat Satwa! Saat mendengar kata ular, banyak orang langsung merasa takut. Tidak sedikit pula anggapan yang berkembang di masyarakat, seperti semua ular berbisa, ular selalu mengejar manusia, atau kulit ular berlendir. Padahal, sebagian besar anggapan tersebut hanyalah mitos. Dalam rangka memperingati Hari Ular Sedunia setiap tanggal 16 Juli, yuk kenali beberapa fakta tentang ular agar kita semakin memahami peran penting satwa ini di alam.Salah satu anggapan yang paling sering terdengar adalah bahwa semua ular berbisa. Faktanya, dari lebih dari 4.000 jenis ular di dunia, hanya sekitar 600 jenis yang memiliki bisa, dan hanya sebagian kecil yang benar-benar berbahaya bagi manusia. Sebagian besar ular justru tidak berbisa dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.Banyak orang juga percaya bahwa ular selalu mengejar manusia untuk menyerang. Padahal, ular pada dasarnya akan menghindari manusia. Gigitan biasanya terjadi ketika ular merasa terganggu, terpojok, atau sedang mempertahankan diri. Oleh karena itu, menjaga jarak dan tidak mengganggu ular merupakan langkah terbaik apabila bertemu satwa ini di alam.Anggapan lain yang sering muncul adalah kulit ular berlendir dan bentuk kepala segitiga menandakan ular pasti berbisa. Faktanya, kulit ular bersifat kering dan diselimuti sisik, bukan berlendir seperti amfibi. Selain itu, bentuk kepala tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah seekor ular berbisa atau tidak karena beberapa ular tidak berbisa juga memiliki bentuk kepala yang menyerupai segitiga.Tidak sedikit pula yang menganggap ular sebagai hama yang harus dibunuh. Padahal, ular merupakan pemangsa alami yang membantu mengendalikan populasi tikus dan hewan pengerat lainnya. Peran tersebut sangat penting untuk menjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan pertanian.Melalui peringatan Hari Ular Sedunia, mari kita mengenal ular berdasarkan fakta, bukan mitos. Dengan memahami peran pentingnya di alam, kita dapat mengurangi kesalahpahaman terhadap satwa ini sekaligus meningkatkan kepedulian untuk menjaga kelestariannya. Selamat memperingati Hari Ular Sedunia, Sobat Satwa!Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada Referensi:Sulthoni. (2023, July 15). Sejarah Hari Ular Sedunia 16 Juli dan alasan peringatannya. Tirto.id.https://tirto.id/sejarah-hari-ular-sedunia-16-juli-dan-alasan-peringatannya-gMZWRahmat, A. A. (2026, July 1). 5 mitos tentang ular berbisa yang tak terbukti secara ilmiah. IDN Times.https://www.idntimes.com/science/discovery/5-mitos-tentang-ular-berbisa-yang-tak-terbukti-secara-ilmiah-c1c2-01-b11wj-2ncmctRahmat, A. A. (2026, July 1). Apakah semua ular berbahaya bagi manusia?. IDN Times. https://www.idntimes.com/science/discovery/apakah-semua-ular-berbahaya-bagi-manusia-c1c2-01-b11wj-0rm8w3

img
Hoaks atau Fakta: Manusia 98% Mirip dengan Simpanse?

Sobat Satwa sering bertanya-tanya tidak, sih? Apakah benar nenek moyang kita itu seekor monyet? Pertanyaan ini sering muncul karena perawakan beberapa primata memang terlihat sedikit mirip dengan perawakan kita sebagai manusia. Sebenarnya, manusia tidak berevolusi dari monyet. Namun, manusia dan semua satwa primata memang memiliki tingkat kekerabatan dan kemiripan yang sangat tinggi. Dalam rangka memperingati World Chimpanzee Day atau Hari Simpanse Sedunia, yuk kita simak seberapa dekat dan miripnya kita dengan salah satu sobat primata tercerdas ini.Secara ilmiah, Simpanse (Pan troglodytes) merupakan salah satu primata yang dikenal sangat cerdas. Menariknya, berbagai penelitian genetika modern menemukan fakta bahwa simpanse memiliki kesamaan material genetik atau DNA hingga sekitar 98% dengan manusia. Angka yang menakjubkan ini mengonfirmasi bahwa secara filogenetik, manusia dan simpanse memang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dalam pohon evolusi makhluk hidup di bumi.Namun, kesamaan DNA yang sangat masif ini bukan berarti manusia dan simpanse harus memiliki kemiripan fisik atau perilaku yang identik. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa perbedaan kecil sekitar 1,5% hingga 2% pada tingkat molekuler justru mampu menghasilkan dampak yang sangat besar pada bentuk tubuh, kemampuan berpikir, hingga perilaku sehari-hari. Perbedaan karakter fisik maupun perilaku antara manusia dan simpanse ini semakin terlihat jelas di masa sekarang karena kedua spesies telah menempuh jalur garis evolusi yang terpisah selama jutaan tahun lamanya.Dengan tingkat kesamaan genetik yang sangat tinggi tersebut, simpanse diposisikan sebagai salah satu spesies paling krusial dalam dunia penelitian evolusi dan biologi manusia. Mempelajari simpanse secara tidak langsung membantu para ilmuwan memahami sejarah perkembangan genetik serta asal-usul biologis kita sendiri sebagai manusia. Tentu saja, seiring berkembangnya metode penelitian dan teknologi analisis genetika yang jauh lebih presisi dari waktu ke waktu, estimasi angka persentase kemiripan DNA antara manusia dan simpanse ini masih bisa terus dinamis dan diperbarui oleh para ahli di masa depan.Pada akhirnya, angka kemiripan 98% ini bukan sekadar deretan data di atas kertas laboratorium, melainkan sebuah cermin besar bagi kita. Angka ini mengingatkan bahwa batas antara manusia modern dengan alam liar sebenarnya sangatlah tipis.Menjaga kelestarian simpanse di habitatnya bukan lagi sekadar aksi penyelamatan satwa langka, melainkan cara kita menghormati separuh "kembaran" biologis kita yang masih tersisa di bumi. Jadi, alih-alih merasa asing, yuk jadikan World Chimpanzee Day ini sebagai momentum untuk lebih peduli dan ikut melindungi ruang hidup mereka.Penulis: Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: Lanni, F. (2004). Hubungan kekerabatan manusia dan simpanse jauh atau dekat? Biota, 9(1), 65–66. Diakses dari https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2833Mongabay Indonesia. (2023, 15 Juli). Suara Simpanse dan Manusia Sama dalam Perkara Ini. Mongabay.co.id. Diakses dari https://mongabay.co.id/2023/07/15/suara-simpanse-dan-manusia-sama-dalam-perkara-ini/

img
Gembira Loka Zoo Tingkatkan Standar Pelayanan Medis Satwa melalui Pelatihan Anestesi Gas bersama FKH UGM

Yogyakarta – Gembira Loka Zoo terus berkomitmen meningkatkan standar pelayanan kesehatan dan kesejahteraan satwa melalui pembaruan fasilitas medis. Komitmen tersebut diwujudkan dengan menghadirkan perangkat anestesi gas terbaru beserta perlengkapan pendukungnya, seperti ventilator, patient monitor, dan syringe pump, yang mampu mendukung tindakan medis secara lebih aman dan akurat.Sebagai bagian dari implementasi penggunaan teknologi tersebut, Gembira Loka Zoo menyelenggarakan pelatihan anestesi gas yang menghadirkan drh. Dito Anggoro, M.Sc., Ph.D., dokter hewan anestesiologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) sekaligus Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi UGM. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh dokter hewan dan paramedis Gembira Loka Zoo, serta mengundang sejumlah lembaga konservasi dan mitra profesi, di antaranya Jatim Park, Cikananga Wildlife Center, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YARI), COP, Klinik Hewan PetVille, dan Dji'O Pet Care.Materi yang diberikan meliputi prinsip kerja anestesi gas, pengoperasian mesin anestesi, penggunaan ventilator, hingga interpretasi berbagai parameter vital yang ditampilkan pada patient monitor, seperti detak jantung, tekanan darah, kadar oksigen, dan laju pernapasan. Kemampuan memahami data tersebut menjadi aspek penting dalam menjaga stabilitas kondisi satwa selama menjalani anestesi.Sebagai bagian dari sesi praktik, peserta melakukan pendampingan penggunaan alat saat seekor beruang madu menjalani pemeriksaan kesehatan (medical check-up) rutin. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengoperasikan peralatan pada kondisi klinis nyata, sekaligus memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai standar medis dan mengutamakan kesejahteraan satwa.Dokter Satwa Gembira Loka Zoo, drh. Randy Kusuma menjelaskan bahwa pengadaan peralatan baru ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan pasien satwa selama menjalani tindakan medis."Peralatan ini bukan sekadar pembaruan teknologi, tetapi merupakan upaya kami untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan satwa. Dengan adanya ventilator dan patient monitor, tim medis dapat memantau kondisi fisiologis satwa secara real time selama anestesi sehingga setiap perubahan dapat segera direspons. Harapan kami, tingkat keselamatan satwa saat menjalani operasi maupun prosedur medis lainnya akan semakin meningkat," ujar drh. Randy Kusuma saat dikonfirmasi, Minggu (12 Juli 2026).Ia menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya ditujukan bagi tenaga medis Gembira Loka Zoo, tetapi juga menjadi sarana berbagi ilmu dengan sesama lembaga konservasi di Indonesia."Kami ingin perkembangan teknologi medis ini memberikan manfaat yang lebih luas. Karena itu kami mengundang berbagai lembaga konservasi dan rekan sejawat untuk belajar bersama. Kolaborasi seperti ini penting agar standar pelayanan kesehatan satwa di berbagai institusi konservasi dapat terus berkembang," tambahnya.Pelatihan ini juga menghadirkan drh. Dito Anggoro, M.Sc., Ph.D.  sebagai narasumber karena memiliki kompetensi di bidang anestesiologi veteriner sekaligus berpengalaman dalam penggunaan perangkat anestesi modern. Kehadirannya diharapkan mampu memastikan seluruh peserta memahami prosedur penggunaan alat secara tepat dan sesuai standar keselamatan.Melalui peningkatan fasilitas medis, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan berbagai institusi, Gembira Loka Zoo terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi satwa sekaligus mendukung pengembangan ilmu kedokteran satwa liar di Indonesia.Penulis:Leonardus Wical Zelena ArgaHead of Public Relations and Marketing Communications

img
Hari Kapibara Sedunia: Mengenal Si Pengerat Terbesar di Dunia

Halo Sobat Satwa! Setiap tanggal 10 Juli, dunia memperingati Hari Kapibara Sedunia, satwa pengerat terbesar di dunia yang terkenal dengan sikapnya yang santai dan bersahabat dengan hampir semua makhluk hidup, termasuk manusia.Nama ilmiah kapibara, Hydrochoerus hydrochaeris, mencerminkan kedekatannya dengan air. Kapibara merupakan hewan semi-akuatik yang banyak ditemukan di kawasan berair seperti sungai, danau, rawa, serta lahan basah di berbagai wilayah Amerika Selatan. Mereka menghabiskan banyak waktu di sekitar air untuk mencari makan dan beristirahat.Selain itu, kapibara memiliki kehidupan sosial yang erat. Dalam satu kelompok umumnya terdapat 10–50 individu dengan ikatan sosial yang kuat. Kapibara sering terlihat beristirahat, bermain, saling merawat tubuh (grooming), serta berkomunikasi melalui berbagai suara untuk menjaga kekompakan kelompok. Mereka juga paling aktif pada pagi dan sore hari, sedangkan siang hari biasanya dimanfaatkan untuk beristirahat di dekat perairan.Kapibara berkembang biak dengan cara melahirkan, dengan masa kehamilan berlangsung sekitar 120 hingga 150 hari. Dalam sekali beranak, induk kapibara bisa melahirkan 2 sampai 8 ekor anakan sekaligus. Menariknya, anakan kapibara lahir dalam kondisi yang sudah berkembang dengan baik, lengkap dengan rambut, mata terbuka, dan gigi yang telah tumbuh. Tak lama setelah lahir, mereka sudah mampu berdiri dan berjalan sendiri.Perkembangan anakan kapibara berlangsung cukup pesat. Pada usia sekitar satu minggu, mereka sudah mulai memakan rumput seperti kapibara dewasa. Masa penyapihan berlangsung sekitar tiga bulan. Meskipun begitu, anak kapibara tetap tinggal bersama kelompoknya hingga berusia sekitar satu tahun untuk belajar hidup secara berkelompok.Salah satu kebiasaan menggemaskan yang sering menarik perhatian pengunjung zoo adalah anakan kapibara suka berjemur di bawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya. Kebiasaan ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri saat mengamati kapibara di habitatnya.Bersamaan dengan momen Hari Kapibara Sedunia, mari bersama-sama menjaga kelestarian kapibara dan habitat alaminya. Kehidupan berkelompok kapibara mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam demi generasi mendatang. Selamat Hari Kapibara Sedunia!Penulis:Saffana Firdausy Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi:Matthews, K. A-Z Animals. (2024). Are Capybaras the Biggest Rodents in the World? (Apakah Kapibara Merupakan Hewan Pengerat Terbesar di Dunia?). https://a-z-animals.com/blog/are-capybaras-the-biggest-rodents-in-the-world/Encyclopedia. (2024). Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris). https://encyclopedia.pub/entry/58611

img
Rahasia "Gigi Abadi" Buaya Senyulong, Si Pemalu Penghuni Gembira

Halo Sobat Satwa! Kalau manusia hanya bisa menumbuhkan giginya sebanyak dua kali seumur hidup, satwa eksotis nan pemalu ini tidak pernah ompong karena mampu menumbuhkan 80 giginya sampai 50 kali sepanjang hidupnya, lho! Dalam rangka menyambut tanggal 17 Juni 2026 yang ditetapkan sebagai Hari Buaya Sedunia, yuk kita berkenalan dengan salah satu jenis buaya di Gembira Loka Zoo, yaitu Buaya Senyulong! Buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii) merupakan buaya yang tinggal di rawa gambut, sungai pedalaman, maupun perairan tawar yang tenang lainnya dan cenderung menghindari permukiman manusia. Karena itu, Buaya Senyulong disebut dengan buaya pemalu! Populasinya tersebar di wilayah Indonesia—tepatnya di Pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa—serta beberapa kawasan di Negara Malaysia dan Brunei. Statusnya dalam Daftar Merah IUCN (International Union and Conservation Nature) kini terancam punah (Endangered). Diperkirakan populasinya tersisa 2.500 ekor Buaya Senyulong di seluruh dunia akibat hilangnya habitat arena deforestasi besar-besaran.Dibalik statusnya yang kini terancam punah, buaya bermoncong pipih panjang ini termasuk hewan polyphyodont yang mampu menumbuhkan gigi baru di sepanjang hidupnya. Buaya Senyulong dapat bertahan hidup hingga usia rata-rata 35 sampai 75 tahun dan meregenerasi 80 giginya sebanyak 50 kali.Di bawah setiap gigi buaya, sebenarnya sudah ada gigi pengganti kecil dan jaringan sel punca (stem cells) yang mengantri di dalam gusi. Jadi, buaya sudah menyiapkan "pasukan cadangan" sejak awal tepat sebelum gigi buaya ompong. Begitu gigi utama lepas saat berburu, ruang kosong tersebut secara otomatis memicu jaringan gusi untuk mendorong gigi pengganti naik ke permukaan. Bersamaan dengan itu, sel punca di bawahnya langsung memproduksi bakal gigi baru untuk antrian berikutnya hingga 50 kali seumur hidup. Kemampuan tersebut menjadi senjata utama buaya untuk bertahan hidup di alam liar. Buaya Senyulong tidak mengunyah mangsanya melainkan mencabik dan merobeknya, sehingga giginya rentan mengalami keausan, patah, ataupun rusak saat menjepit mangsa.Melalui momen Hari Buaya Sedunia ini, mari kita tingkatkan kepedulian terhadap kelestarian Buaya Senyulong. Sesuai dengan tujuan dicetuskannya World Croc Day sejak tanggal 17 Juni 2017 oleh Crocodile Research Coalition (CRC), yuk bersama-sama kita jaga habitat aslinya agar si pemilik "gigi abadi" ini bisa terus lestari di sungai-sungai Nusantara. Selamat Hari Buaya Sedunia!Penulis:Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi:Crocodile Research Coalition (CRC). (2017). World Croc Day. Diakses dari https://crocodileresearchcoalition.org/world-croc-day Hananto, A. (2026, 10 Juni). Senyulong, Buaya Pemalu yang Habitatnya Menghilang dan Kini Terpaksa Mendekati Manusia. Mongabay.co.id. Diakses dari https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/senyulong-buaya-pemalu-yang-habitatnya-menghilang-dan-kini-terpaksa-mendekati-manusia/ Al Khair, Y. I. (2021, 6 Mei). Buaya Senyulong, Reptil Pemalu Penghuni Perairan Rawa. Greeners.Co. Diakses dari https://www.greeners.co/flora-fauna/buaya-senyulong-reptil-pemalu-penghuni-perairan-rawa/ Nuwer, R. (2013, 13 Mei). Solving an Alligator Mystery May Help Humans Regrow Lost Teeth (Memecahkan Misteri Aligator yang Mungkin Dapat Membantu Manusia Menumbuhkan Kembali Gigi yang Tanggal). Smithsonianmag.com. Diakses dari https://www.smithsonianmag.com/science-nature/solving-an-alligator-mystery-may-help-humans-regrow-lost-teeth-60257334/

img
Gembira Loka Zoo Hadirkan Edukasi Satwa Interaktif di Semarang

Gembira Loka Zoo kembali menghadirkan Pesona Gembira Loka, pameran edukasi satwa yang kali ini akan menyapa masyarakat Semarang di The Park Mall Semarang pada 12–21 Juni 2026. Mengusung konsep edukasi, interaksi, dan hiburan keluarga, Pesona Gembira Loka menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat dunia satwa sekaligus menikmati berbagai aktivitas menarik khas Gembira Loka Zoo.Pesona Gembira Loka merupakan program roadshow edukasi yang membawa pengalaman Gembira Loka Zoo lebih dekat ke masyarakat melalui kombinasi edukasi konservasi, permainan interaktif, dan hiburan kreatif dalam suasana pusat perbelanjaan.Selama sepuluh hari penyelenggaraan, pengunjung dapat mengikuti beragam games edukatif dan interaktif, seperti Blooket, Minzoo Berkata, Puzzle, Herping, Bird Watching, Eatbulaga, Tebak Gambar, Scavenger Hunt, Bisa / Tidak Berbisa, hingga Pilah Pilih. Berbagai permainan tersebut dirancang untuk memperkenalkan pengetahuan satwa dan lingkungan secara menyenangkan untuk anak-anak maupun keluarga.Selain permainan, Pesona Gembira Loka juga menghadirkan rangkaian program edukasi satwa, mulai dari Presentasi Edukasi Satwa (PES), keeper talk enrichment, hingga enrichment class atau workshop yang mengajak pengunjung memahami perilaku satwa, enrichment, serta pentingnya konservasi.Selain itu, pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas interaktif bersama satwa, mulai dari photobooth Aves dan Kapibara, feeding + photo Ceko dan Aviary, hingga feeding Kambing serta Kura-kura + Koi yang memberikan pengalaman lebih dekat dengan satwa secara aman dan edukatif.Suasana acara semakin semarak dengan berbagai penampilan hiburan seperti drama musikal, drama teatrikal, mini karnaval, dan flashmob yang akan hadir selama event berlangsung.Head of Public Relations and Marketing Communications Gembira Loka Zoo, Leonardus Wical Zelena Arga, mengatakan bahwa Pesona Gembira Loka bukan sekadar pameran satwa, melainkan sarana edukasi publik tentang konservasi yang dikemas secara menarik dan mudah diakses masyarakat.“Pesona Gembira Loka kami hadirkan agar masyarakat dapat merasakan pengalaman edukasi satwa lebih dekat, interaktif, dan menyenangkan. Kami ingin menunjukkan bahwa kebun binatang bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ruang belajar mengenai konservasi dan kesejahteraan satwa,” ujar Leon.Leon menegaskan, meskipun menghadirkan satwa ke dalam area mall, Gembira Loka Zoo tetap menerapkan standar animal welfare atau kesejahteraan satwa sesuai ketentuan yang berlaku.“Kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas utama kami. Seluruh satwa yang terlibat berada dalam pengawasan tim profesional dan melalui prosedur yang telah disesuaikan dengan standar pengelolaan satwa modern, mulai dari pengaturan durasi tampil, kondisi kandang, hingga pendampingan keeper selama kegiatan berlangsung,” jelasnya.Komitmen Gembira Loka Zoo terhadap kesejahteraan satwa tersebut juga mendapat pengakuan melalui berbagai capaian, di antaranya Akreditasi A dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta sertifikasi kesejahteraan satwa oleh SEAZA pada tahun 2025.Sebagai bagian dari acara, Gembira Loka Zoo juga menghadirkan promo spesial presale tiket masuk. Masyarakat dapat memperoleh voucer Rp30.000 untuk akses masuk dua orang selama periode presale. Sementara pembelian selama event berlangsung akan dikenakan harga Rp30.000 untuk satu orang.Informasi dan pembelian tiket presale dapat diakses melalui: www.presale.glzoo.comSelain itu, tersedia pula promo tiket masuk Gembira Loka Zoo (penjualan saat Pesona) dengan pilihan paket sebagai berikut:Paket KAPIBARA (5 tiket masuk)Harga: Rp 300.000Setara Rp 60.000 per orangPaket RUBAH (7 tiket masuk)Harga: Rp375.000Setara sekitar Rp 53.500 per orangPesona Gembira Loka diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus hiburan keluarga yang memperkenalkan pentingnya pelestarian satwa dengan cara yang lebih dekat, menarik, dan relevan bagi masyarakat urban.Contact Person:+62 851-7956-1370Leonardus Wical Zelena Argahumas@gembiralokazoo.com

img
ENDANGERED SPECIES DAY: MENJAGA SATWA DAN MASA DEPAN EKOSISTEM

Endangered Species Day menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran tentang satwa liar yang terancam punah serta pentingnya menjaga keberlangsungan biodiversitas.Satwa terancam punah adalah spesies yang populasinya terus menurun dan menghadapi risiko tinggi hilang dari habitat alaminya. Ancaman tersebut dapat berasal dari kerusakan habitat, perburuan ilegal, perdagangan satwa liar, perubahan iklim, hingga konflik dengan manusia.Sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, Indonesia memiliki banyak spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah tertentu. Namun sayangnya, tidak sedikit satwa Indonesia yang kini masuk dalam kategori terancam punah.Berikut beberapa di antaranya:🐅 Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae)Subspesies harimau terkecil yang masih bertahan di Indonesia ini memiliki peran penting sebagai predator puncak dalam menjaga keseimbangan rantai makanan di hutan Sumatra. Saat ini populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat dan perburuan ilegal.🦧 Orangutan Sumatra (Pongo abelii)Dikenal sebagai salah satu primata paling cerdas di dunia, orangutan membantu penyebaran biji di hutan tropis sehingga berperan besar dalam regenerasi hutan. Deforestasi dan alih fungsi lahan menjadi ancaman utama bagi spesies ini.🐘 Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus)Gajah memiliki peran ekologis penting sebagai “penjaga hutan” karena membantu membuka jalur alami dan menyebarkan benih tumbuhan. Fragmentasi habitat menyebabkan meningkatnya konflik antara gajah dan manusia.🪶 Burung Rangkong Gading (Rhinoplax vigil)Burung khas hutan Asia Tenggara ini dijuluki “petani hutan” karena membantu penyebaran biji buah-buahan hutan. Spesies ini menghadapi ancaman serius akibat perburuan paruhnya yang bernilai tinggi dalam perdagangan ilegal.🕊️ Burung Curik Bali (Leucopsar rothschildi)Salah satu satwa endemik Indonesia yang sangat ikonik dengan bulu putih dan lingkar mata biru khasnya. Populasinya di alam liar sempat berada di ambang kepunahan akibat perburuan dan perdagangan ilegal.🐗 Babi Kutil (Sus verrucosus)Satwa endemik Pulau Jawa ini memiliki peran penting dalam menjaga kesuburan tanah melalui aktivitas mencari makan di lantai hutan. Meski jarang disorot, populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat alami.Setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika satu spesies hilang, dampaknya dapat memengaruhi banyak kehidupan lain di alam.Melindungi satwa bukan hanya tentang menjaga satu jenis hewan, tetapi juga tentang menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.Melalui edukasi, konservasi, dan kolaborasi, kita dapat bersama-sama menjadi bagian dari upaya menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

img
Syawalan Keluarga Besar Gembira Loka Zoo

Yogyakarta, 2 April 2026 – Dalam rangka menjalin silaturahmi Kebun Raya dan Kebun Binatang (KRKB) Gembira Loka kembali menggelar acara Syawalan Keluarga Besar Gembira Loka pada Sabtu (02/04), pukul 09.00 WIB di Mayang Tirta. Acara ini dihadiri oleh K.G.P.A.A Paku Alam X selaku pembina Yayasan Gembira Loka, pimpinan Yayasan Gembira Loka, Manajemen Gembira Loka, para pensiunan Gembira Loka, serta seluruh karyawan Gembira Loka. Acara diawali dengan pembukaan dan doa bersama. Pembukaan dibawakan oleh Direktur Utama, K.M.T Tirtodiprojo yang menekankan rasa bersyukur atas keberhasilan dicapai Gembira Loka Zoo selama ini, yang tentunya keberhasilan dapat dicapai dari keterpaduan antar sesama. “Jangan sampai keberhasilan membawa kita jumawa, justru sebaliknya, kita harus semakin rendah hati, semakin peka terhadap kelestarian alam, konservasi dan terus memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan dan yang paling utama kesejahteraan satwa adalah prioritas kami,” ucap K.M.T. Tirtodiprojo selaku Direktur Utama Gembira Loka Zoo.Dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Ustaz Saibani. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya mengambil hikmah dari momen Syawalan sebagai sarana mempererat silaturahmi dan saling memaafkan. Nilai-nilai tersebut sejatinya bersifat universal, melampaui perbedaan, serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan terus menjunjung tinggi sikap saling menghargai dan memanusiakan sesama.Acara selanjutnya adalah pembacaan ikrar oleh G.B.P.H. Yudhaningrat, M.M., selaku ketua yayasan Gembira Loka sebagai manifestasi dari komitmen bersama untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan satu sama lain. Momen penting selanjutnya adalah sesi halal-bihalal yang melibatkan semua yang hadir sebagai simbolisasi penerimaan maaf dan saling mengampuni. Kemudian dilanjut dengan sesi foto bersama yang menambah kehangatan suasana. Harapannya dengan terjalinnya silaturahmi yang baik di antara pimpinan dan seluruh karyawan Gembira Loka, dapat pula meningkatkan lingkungan kerja dan kinerja menjadi lebih baik.Contact Person:Public Relationshumas@gembiralokazoo.com 

img
Gembira Loka Zoo Umumkan Penyesuaian Harga Tiket Mulai 30 Maret

Gembira Loka Zoo mengumumkan penyesuaian harga tiket masuk yang akan mulai berlaku pada 30 Maret 2026. Penyesuaian ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan serta menciptakan pengalaman kunjungan yang lebih baik untuk semua pengunjung.Adapun harga tiket terbaru ditetapkan sebesar Rp.70.000,- untuk hari Senin–Jumat (weekday) dan Rp.85.000,- untuk Sabtu–Minggu serta hari libur nasional (weekend). Selain itu, terdapat kebijakan baru berupa gratis tiket masuk bagi anak dengan tinggi badan di bawah 90 cm dan lansia madya.Penyesuaian harga ini juga menjadi yang pertama sejak akhir tahun 2021, di mana selama periode tersebut Gembira Loka Zoo terus melakukan berbagai pengembangan tanpa adanya perubahan harga tiket.Penyesuaian ini sejalan dengan berbagai peningkatan fasilitas dan layanan yang telah dilakukan. Selain hadirnya Zona Cakar sebagai zona baru dengan koleksi satwa seperti painted dog, red fox, singa, hyena, dan masih banyak lagi. Pengunjung juga kini dapat menikmati fasilitas yang semakin lengkap, seperti peningkatan kualitas toilet, ruang laktasi, rest area, kantin, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Selain itu, tersedia pula layanan Pusat Informasi di area dekat Gajah Resto untuk membantu kebutuhan informasi pengunjung selama berada di kawasan Gembira Loka Zoo.Menambah pengalaman berkunjung yang lebih interaktif, pengunjung juga dapat menikmati kesempatan berfoto bersama satwa seperti reptil, burung, binturong, dan lemur tanpa dipungut biaya tambahan.“Penyesuaian harga tiket ini kami lakukan seiring dengan berbagai peningkatan fasilitas dan layanan yang terus kami kembangkan. Terlebih, sejak akhir 2021 hingga saat ini belum ada penyesuaian harga, sementara berbagai pembaruan terus kami hadirkan. Harapannya, setiap pengunjung dapat merasakan pengalaman berwisata yang lebih nyaman, menyenangkan, dan edukatif,” ujar Leonardus Wical Zelena Arga, Marketing Communications Supervisor Gembira Loka Zoo.Lebih lanjut, Leon menegaskan bahwa penyesuaian ini merupakan bentuk komitmen dalam menghadirkan kualitas layanan yang terus berkembang, sekaligus memberikan nilai tambah yang sepadan bagi pengunjung.Sebagai informasi, harga tiket yang dibayarkan pengunjung telah termasuk berbagai fasilitas gratis, yaitu Travelator, Kereta Keliling (Taring), Kapal Katamaran, Presentasi Edukasi Satwa Mamalia dan Aves, foto bersama satwa dan tentunya gratis masuk semua zona satwa. Gembira Loka Zoo buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB. Pembelian tiket dapat dilakukan secara online melalui website resmi www.gembiralokazoo.com, maupun secara langsung di loket masuk.Dengan berbagai peningkatan tersebut, Gembira Loka Zoo terus berkomitmen menjadi destinasi wisata edukasi yang memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat.Contact Person:+62 812-2266-2290 humas@gembiralokazoo.com 

WhatsApp