Loading...
img

Berita Terkini

img
November Makin Seru, GembiRun Loka 2026 Hadir dengan Rute Spesial

Yogyakarta, 28 September 2026 – Gembira Loka Zoo (GL Zoo) kembali menghadirkan GembiRun Loka 2026, ajang family fun run yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Gembira Loka Zoo. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Minggu, 8 November 2026, bertempat di kawasan Gembira Loka Zoo, Yogyakarta.GembiRun Loka kembali membawa konsep olahraga yang dipadukan dengan pengalaman rekreasi dan edukasi. Dengan target 2.300 peserta, kegiatan ini dirancang sebagai ruang bagi keluarga, komunitas, maupun masyarakat umum untuk menikmati aktivitas fisik dalam suasana yang menyenangkan sekaligus mengenal lebih dekat berbagai aspek konservasi dan kehidupan satwa. Peserta tidak hanya diajak berolahraga, tetapi juga menikmati suasana Gembira Loka Zoo melalui pengalaman yang seru dan edukatif di sepanjang perjalanan.Berbeda dari kegiatan lari pada umumnya, peserta GembiRun Loka 2026 akan diajak menikmati perjalanan di dalam kawasan Gembira Loka Zoo dengan berbagai pengalaman yang telah disiapkan di sepanjang rute. Sejumlah games dan aktivitas interaktif akan ditempatkan di beberapa titik jalur, sehingga peserta tidak hanya berlari atau berjalan, tetapi juga dapat menikmati berbagai tantangan dan pengalaman selama perjalanan.Salah satu hal yang menjadi daya tarik GembiRun Loka 2026 adalah adanya rencana rute spesial yang akan melewati kawasan Kebun Raya. Kehadiran rute tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk menikmati pengalaman menyusuri jalur yang berbeda dari rute utama sekaligus melihat sisi lain kawasan Gembira Loka Zoo.Selain rute spesial, peserta juga akan diajak mengenal Gembira Loka Zoo lebih dalam melalui rute yang biasa dilewati oleh keeper. Sepanjang perjalanan, peserta dapat menemukan berbagai informasi dan pengalaman edukatif mengenai satwa, lingkungan, serta kawasan yang menjadi bagian dari Gembira Loka Zoo. Dengan demikian, perjalanan GembiRun Loka 2026 tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga kesempatan bagi peserta untuk melihat dan mengenal lebih dekat berbagai sisi Gembira Loka Zoo.Kehadiran berbagai pengalaman di sepanjang rute diharapkan memberikan perspektif baru bagi peserta dalam menikmati kawasan Gembira Loka Zoo. Selain pengalaman di sepanjang rute, GembiRun Loka 2026 juga menghadirkan Race Village sebagai area aktivitas pasca-lari yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peserta.Di Race Village, peserta dapat mengikuti berbagai aktivitas yang telah disiapkan, mulai dari games berhadiah, pemeriksaan kesehatan gratis, pembagian doorprize, lomba kostum, senam sehat, kesempatan memutar wheel prize, hingga berbagai hiburan menarik yang akan memeriahkan kegiatan hingga pukul 10.00 WIB.“Melalui GembiRun Loka 2026, kami ingin menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar kegiatan lari. Kami ingin peserta dapat menikmati olahraga bersama keluarga, menemukan berbagai pengalaman di sepanjang rute, sekaligus mengenal Gembira Loka Zoo dengan cara yang berbeda,” ujar Leonardo Niko Tirtono, Ketua Pelaksana GembiRun Loka.“Tahun ini kami juga menyiapkan beberapa pengalaman baru, termasuk rencana rute spesial Kebun Raya. Peserta juga akan diajak mengenal Gembira Loka Zoo lebih dalam melalui rute yang biasa dilewati oleh keeper, sehingga perjalanan tidak hanya menjadi aktivitas olahraga, tetapi juga memberikan pengalaman edukatif mengenai satwa dan kawasan Gembira Loka Zoo. Setelah menyelesaikan rute, peserta dapat menikmati berbagai kegiatan di Race Village, mulai dari edukasi, permainan, hiburan, hingga berbagai aktivitas interaktif lainnya. Kami berharap setiap peserta dapat membawa pulang pengalaman yang beragam, mulai dari berolahraga, belajar, bermain, hingga menikmati momen kebersamaan bersama keluarga,” lanjutnya.GembiRun Loka 2026 juga menghadirkan edukasi terkait pilah sampah sebagai salah satu kampanye Gembira Loka Zoo untuk memberikan kontribusi nyata bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan. Peserta dapat mengikuti games edukasi pilah sampah yang dirancang secara menyenangkan dan interaktif. Melalui aktivitas ini, peserta diajak mengenali jenis sampah sekaligus memahami pentingnya memilah sampah dengan tepat.Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Gembira Loka Zoo untuk mendorong kebiasaan sederhana yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan.Dengan rangkaian kegiatan yang semakin variatif dan penuh makna, GembiRun Loka 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga sarana edukasi, kepedulian lingkungan, serta wadah mempererat kebersamaan keluarga. Melalui semangat sehat, bahagia, dan cinta satwa, Gembira Loka Zoo ingin menjadikan perayaan HUT ke-73 ini sebagai momen berkesan bagi seluruh peserta sekaligus langkah nyata menuju kehidupan yang lebih peduli dan berkelanjutan.Contact PersonMarketing Communicationshumas@gembiralokazoo.com+62 895-4007-17939

img
Mengenal Alpaka, Satwa Berbulu Lembut dengan Beragam Keunikan

Alpaka (Vicugna pacos) dikenal sebagai satwa dengan penampilan yang lembut dan menggemaskan. Rambutnya yang tebal dan menyerupai kapas membuat alpaka mudah dikenali. Namun, di balik penampilannya tersebut, alpaka memiliki berbagai karakteristik dan perilaku unik yang berkaitan dengan cara mereka beradaptasi dengan lingkungan.Dalam rangka Hari Alpaka Sedunia, mari mengenal lebih dekat satwa yang masih termasuk dalam keluarga unta ini.Bagian dari Keluarga UntaMeskipun penampilannya berbeda jauh dari unta yang biasa kita kenal, alpaka ternyata masih termasuk dalam keluarga unta. Alpaka juga berkerabat dengan llama, yang memiliki ukuran tubuh cenderung lebih besar.Di antara kerabatnya dalam keluarga unta, alpaka memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil. Karakteristik tersebut menjadi salah satu hal yang membuat alpaka mudah dibedakan dari kerabatnya.Rambut Seperti KapasSalah satu ciri khas alpaka adalah rambutnya yang tebal dan terlihat seperti kapas. Selain memberikan penampilan yang menarik, rambut alpaka memiliki karakteristik yang mendukung kehidupannya.Rambut alpaka memiliki sifat tahan air dan mampu menyerap kelembapan. Karakteristik ini menjadi salah satu keunikan yang dimiliki tubuh alpaka.Bibir yang Membantu Mengambil MakananAlpaka memiliki bibir atas yang terbelah dan mampu membantu memegang makanan. Struktur ini membuat alpaka dapat mengambil tanaman pegunungan yang pendek dengan lebih efisien.Kemampuan tersebut menunjukkan bagaimana bentuk tubuh satwa dapat mendukung cara mereka memperoleh makanan dari lingkungan tempat hidupnya.Leher Panjang dengan Jangkauan Pandang LuasSelain rambutnya, alpaka juga memiliki leher yang panjang. Struktur tubuh ini mendukung alpaka untuk memiliki jangkauan pandang yang luas.Jangkauan pandang tersebut membantu alpaka dalam memperhatikan lingkungan sekitarnya, termasuk mendeteksi keberadaan predator.Alpaka Bisa Meludah?Di balik wajahnya yang terlihat kalem, alpaka ternyata memiliki perilaku yang mungkin cukup mengejutkan.Ketika merasa marah atau terganggu, alpaka memiliki kebiasaan meludah sebagai salah satu bentuk responsnya.Karena itu, meskipun alpaka terlihat jinak dan menggemaskan, penting bagi kita untuk tetap memahami perilaku satwa dan memberikan ruang yang nyaman bagi mereka.Dapat Hidup hingga 20 TahunDi alam, alpaka dapat hidup sekitar 15 hingga 20 tahun. Selama kehidupannya, berbagai karakteristik fisik dan perilaku yang dimiliki alpaka membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan.Mengenal Satwa Lebih dari Sekadar PenampilannyaAlpaka mungkin dikenal karena bulunya yang lembut dan wajahnya yang menggemaskan. Namun, di balik penampilan tersebut terdapat berbagai karakteristik menarik, mulai dari hubungan kekerabatannya dengan unta dan llama, rambut yang mampu menyerap kelembapan, bibir atas yang terbelah, leher panjang, hingga perilakunya saat merasa terganggu.Mengenal karakteristik tersebut membantu kita memahami bahwa setiap satwa memiliki cara tersendiri untuk beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.Selamat Hari Alpaka Sedunia! 🦙🌿 Mari terus mengenal satwa, memahami perilakunya, dan menumbuhkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati.Penulis: Leonardus Wical Zelena Arga

img
Mengenal Kasuari, Si Penjaga Hutan dari Timur

Kasuari (Casuarius casuarius) merupakan salah satu burung yang memiliki karakteristik sangat unik. Tidak seperti banyak jenis burung lainnya, kasuari merupakan burung yang tidak dapat terbang. Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup. Dengan kaki yang kuat, tubuh yang khas, serta perannya dalam menyebarkan biji tumbuhan, kasuari menjadi salah satu satwa yang memiliki peranan penting bagi ekosistem hutan.Dalam rangka Hari Kasuari Sedunia, mari mengenal lebih dekat satwa unik yang hidup di kawasan Australia bagian timur laut, Papua, dan pulau-pulau di sekitarnya, terutama di habitat hutan tropis.Burung yang Tidak Bisa Terbang dengan Kaki yang KuatSebagai burung yang tidak dapat terbang, kasuari mengandalkan kedua kakinya untuk bergerak. Kaki kasuari sangat kuat dan mendukung kemampuannya untuk berjalan, berlari, serta mempertahankan diri.Kasuari memiliki tiga jari pada setiap kakinya. Salah satu jarinya dilengkapi dengan kuku yang panjang dan tajam yang dapat digunakan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan dirinya.Karakteristik ini membuat kaki menjadi salah satu bagian tubuh kasuari yang penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari.Memiliki “Helm” di Atas KepalaSalah satu ciri kasuari yang paling mudah dikenali adalah struktur seperti helm yang terdapat di bagian atas kepalanya. Struktur tersebut disebut casque.Fungsi casque masih terus diteliti. Struktur ini diduga memiliki kaitan dengan komunikasi dan perlindungan, sehingga menjadi salah satu karakteristik kasuari yang menarik untuk dipelajari.Selain casque, kasuari juga memiliki kemampuan menghasilkan suara berfrekuensi sangat rendah yang dapat digunakan untuk berkomunikasi.Pemakan Buah yang Membantu Hutan Menyebarkan BijiKasuari banyak memakan buah sebagai bagian dari makanannya. Namun, aktivitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan makan.Setelah memakan buah, kasuari dapat membantu menyebarkan biji tumbuhan melalui kotorannya. Dengan demikian, kasuari turut berperan dalam penyebaran tumbuhan di habitatnya.Peran tersebut membuat keberadaan kasuari memiliki keterkaitan dengan dinamika ekosistem hutan. Kasuari tidak hanya menjadi bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi juga berinteraksi dengan tumbuhan di lingkungan tempat hidupnya.Kasuari Jantan yang Mengasuh AnakKasuari juga memiliki pola pengasuhan yang menarik.Setelah betina bertelur, kasuari jantan bertugas mengerami telur dan merawat anaknya. Peran tersebut menjadikan kasuari jantan sebagai bagian penting dalam proses pengasuhan anak setelah telur diletakkan.Anak kasuari memiliki warna cokelat dengan garis-garis memanjang. Pola tersebut membantu anak kasuari berkamuflase di lingkungan hutan sehingga lebih sulit terlihat di antara vegetasi.Hidup di Hutan TropisKasuari dapat ditemukan di Australia bagian timur laut, Papua, dan pulau-pulau di sekitarnya. Habitatnya terutama berupa kawasan hutan tropis yang menyediakan sumber makanan dan lingkungan yang sesuai untuk kehidupannya.Keberadaan kasuari di habitat tersebut menunjukkan bagaimana setiap satwa memiliki hubungan dengan lingkungan tempat mereka hidup.Tidak Hanya Satu Jenis KasuariKasuari terdiri atas beberapa spesies. Beberapa di antaranya adalah: - Kasuari selatan (Casuarius casuarius) - Kasuari utara (Casuarius unappendiculatus) - Kasuari kerdil (Casuarius bennetti) Kasuari selatan atau Casuarius casuarius merupakan salah satu spesies yang memiliki ciri khas berupa casque, kaki yang kuat, serta kemampuan sebagai pemakan buah dan penyebar biji.Mengenal Satwa, Memahami PerannyaKasuari mungkin tidak dapat terbang seperti banyak burung lainnya. Namun, satwa ini memiliki berbagai adaptasi dan perilaku yang membuatnya istimewa.Mulai dari kaki yang kuat, casque di kepala, suara berfrekuensi sangat rendah, hingga perannya dalam membantu penyebaran biji tumbuhan, kasuari menunjukkan bahwa setiap satwa memiliki peran dan hubungan dengan ekosistemnya.Hari Kasuari Sedunia menjadi momentum untuk mengenal kasuari lebih dekat dan memahami pentingnya menjaga keanekaragaman hayati serta habitat tempat satwa hidup. Mari kenali satwa, pahami perannya, dan bersama-sama mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati.Penulis: Leonardus Wical Zelena Arga

img
Ikatan Kuat Orang Utan dan Bayinya: Belajar Bertahan Hidup dari Sang Induk

Di balik tatapan tenang seekor orang utan, terdapat sebuah proses panjang dalam membesarkan generasi berikutnya. Orang utan (Pongo spp.) dikenal memiliki ikatan yang sangat kuat antara induk dan anak. Hubungan tersebut bukan sekadar ikatan kasih sayang, tetapi menjadi bagian penting dari proses belajar dan bertahan hidup di alam liar.Selalu Dekat pada Tahun-Tahun PertamaPada masa awal kehidupannya, bayi orang utan hampir selalu berada di dekat induknya. Dalam sekitar dua tahun pertama, bayi orang utan akan berpegangan erat pada tubuh induknya ketika mereka berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.Kemampuan untuk bergantung dan berpegangan pada induk sangat penting bagi bayi orang utan yang hidup di lingkungan hutan. Kanopi pepohonan merupakan tempat utama bagi orang utan untuk beraktivitas, mencari makanan, beristirahat, dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.Seiring bertambahnya usia, bayi mulai menjadi lebih aktif dan berani menjelajah di sekitar induknya. Namun, sang induk tetap menjadi tempat berlindung sekaligus sumber pembelajaran utama.Belajar dari Sang IbuHubungan antara induk dan anak orang utan berlangsung selama bertahun-tahun. Anak orang utan dapat sangat bergantung pada induknya hingga sekitar usia 6–7 tahun, bahkan proses belajar dan interaksi dengan induk dapat berlangsung lebih lama.Selama masa tersebut, induk mengajarkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan anak untuk hidup mandiri. Anak belajar mengenali berbagai jenis makanan, mengetahui bagian tumbuhan yang dapat dimakan, menemukan sumber makanan, serta memahami cara berpindah dan beraktivitas dengan aman di antara pepohonan.Anak juga belajar dengan cara mengamati perilaku induknya. Mereka mengikuti, memperhatikan, kemudian mencoba melakukan sendiri berbagai hal yang dilakukan oleh sang induk.Dengan demikian, induk bukan hanya berperan sebagai pelindung, tetapi juga sebagai “guru” pertama bagi anaknya.Masa Kanak-Kanak yang PanjangDibandingkan banyak mamalia lainnya, orang utan memiliki masa kanak-kanak yang sangat panjang. Hal ini berkaitan erat dengan banyaknya keterampilan yang harus dikuasai sebelum mereka benar-benar mampu hidup mandiri.Hutan merupakan lingkungan yang kompleks. Untuk bertahan hidup, orang utan perlu memiliki kemampuan mengenali sumber makanan, memahami lingkungan, berpindah di antara pepohonan, serta mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi berbagai situasi.Proses tersebut tidak dapat dikuasai dalam waktu singkat. Karena itu, anak orang utan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk belajar dari induknya sebelum akhirnya mampu menjalani kehidupan secara mandiri.Ikatan yang Menjadi Bekal untuk Bertahan HidupKedekatan antara induk dan bayi orang utan menunjukkan bahwa hubungan sosial memiliki peran penting dalam kehidupan satwa. Ikatan yang kuat memberikan rasa aman bagi anak sekaligus menciptakan kesempatan untuk belajar secara langsung dari individu yang lebih berpengalaman.Setiap gerakan, pilihan makanan, dan cara berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya merupakan bagian dari proses pembelajaran.Masa kanak-kanak yang panjang bukan berarti orang utan terlambat berkembang. Justru, lamanya masa tersebut menunjukkan betapa kompleksnya keterampilan yang perlu mereka kuasai untuk dapat bertahan hidup di alam liar.Dari pelukan sang induk hingga keberanian menjelajah sendiri, setiap tahap pertumbuhan merupakan bagian dari perjalanan panjang seekor orang utan untuk menjadi mandiri.Tahukah Sobat Satwa?Orang utan memiliki salah satu periode ketergantungan anak-induk terpanjang di antara primata. Lamanya hubungan ini memungkinkan anak mendapatkan waktu yang cukup untuk mempelajari berbagai keterampilan penting sebelum hidup mandiri.Penulis: Leonardus Wical Zelena ArgaSumber:Smithsonian's National Zoo & Conservation Biology Institute — OrangutanWorld Wildlife Fund (WWF) — OrangutanInternational Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List — Pongo spp.Rijksen, H. D. (1978). A Field Study on Sumatran Orang Utans (Pongo pygmaeus abelii Lesson 1827). Wageningen University.

img
Rahasia Sehatnya Sang Raja: Mengenal Perawatan Singa Afrika

Singa Afrika (Panthera leo) merupakan salah satu predator besar yang memiliki karakteristik dan kebutuhan perawatan khusus. Sobat Satwa, tahukah kamu bahwa menjaga kesehatan dan kesejahteraan singa membutuhkan berbagai bentuk perawatan? Di Gembira Loka Zoo, perawatan singa dilakukan melalui beberapa aspek, mulai dari kebersihan kandang, pemberian pakan, enrichment, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala.Kebersihan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan singa. Kandang exhibit dan kandang tidur atau Back of House (BOH) dibersihkan secara rutin setiap hari. Lingkungan yang bersih membantu menjaga kenyamanan dan kesehatan satwa selama berada dalam perawatan.Sebagai satwa karnivora, singa membutuhkan asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan hariannya. Setiap hari, singa mendapatkan sekitar 4-6,5 kg daging, yang umumnya berupa daging kerbau dan ayam. Selain pengaturan pakan, singa juga mendapatkan jadwal puasa sebanyak dua kali dalam seminggu sebagai bagian dari pengelolaan pola makan dan perawatan satwa.Perawatan singa tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik. Enrichment juga diberikan secara rutin untuk memberikan stimulasi dan mendorong munculnya perilaku alami. Salah satunya menggunakan hessian bag untuk merangsang indra penciuman. Daging juga dapat dibalut dengan alang-alang untuk mendorong perilaku mencari makan, eksplorasi, dan pemecahan masalah.Kesehatan singa juga dipantau melalui Medical Check-Up (MCU). Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan fisik, darah, X-ray, USG, serta pemeriksaan kesehatan gigi. MCU biasanya berlangsung selama 1-2 jam dan dapat dilakukan di kandang tidur, terutama untuk satwa berukuran besar, atau di klinik sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan.Sebelum MCU dilakukan, singa diberikan anestesi melalui suntikan pada bagian paha kaki belakang. Setelah pemeriksaan selesai, singa akan diobservasi selama beberapa jam untuk memastikan kondisinya tetap stabil dan efek anestesi mulai berkurang. Setelah kondisinya dinilai cukup pulih, singa baru diperbolehkan makan dan minum.Berbagai bentuk perawatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan singa. Perawatan yang dilakukan secara rutin dan terencana membantu memastikan kebutuhan fisik serta perilaku satwa tetap terpenuhi.Melalui World Lion Day yang diperingati setiap 10 Agustus, mengenal lebih dekat perawatan singa dapat menjadi salah satu langkah untuk memahami pentingnya menjaga kesejahteraan satwa. Jadi, Sobat Satwa, di balik sosoknya sebagai predator besar, singa juga membutuhkan perawatan yang kompleks dan penanganan yang tepat untuk mendukung kesehatan serta kesejahteraannya.Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: REACHFAR. (n.d.). Prinsip dasar perawatan singa di lingkungan terkontrol.https://reachfar.org/prinsip-dasar-perawatan-singa-di-lingkungan-terkontrol/

img
Sama-Sama Kucing, Tapi Beda Klan: Mengenal Kekerabatan Kucing Domestik dan Harimau

Pernahkah Sobat Satwa memperhatikan tingkah kucing peliharaan di rumah yang suka meregangkan badan, mengasah kuku, atau mengendap-endap saat mengejar mainan? Gerakan-gerakan khas tersebut sangat mirip dengan gaya berburu Harimau di alam liar. Tak mengherankan, sebab Kucing domestik (Felis catus) dan Harimau (Panthera tigris) memang berada di bawah naungan famili yang sama, yaitu Felidae atau keluarga kucing-kucingan. Walaupun berbagi garis keturunan evolusi yang sama, ukuran tubuh, habitat, hingga perilaku keduanya berbeda cukup signifikan karena terbagi ke dalam dua subfamili yang berbeda.Harimau tergolong ke dalam subfamili Pantherinae yang mencakup 7 spesies kucing besar dunia, seperti Harimau, Singa, Jaguar, Macan Tutul (Leopard), Macan Tutul Salju (Snow Leopard), Macan Dahan (Clouded Leopard), dan Macan Dahan Sunda. Kelompok ini dikenal dengan ukuran tubuh yang besar, kekuatan fisik yang luar biasa, kemampuan berburu yang sangat tangguh, serta struktur tenggorokan khusus yang memungkinkan mereka untuk mengaum.Sementara itu, Kucing domestik yang sering kita jumpai sehari-hari masuk ke dalam subfamili Felinae. Subfamili ini mencakup sekitar 30 spesies kucing berukuran kecil hingga sedang, mulai dari kucing rumah hingga berbagai spesies kucing liar unik di berbagai belahan dunia. Berbeda dengan kelompok Pantherinae, anggota Felinae umumnya tidak dapat mengaum, melainkan berkomunikasi dengan suara mendengkur (purr).Dalam rangka memperingati World Cat Day, Sobat Satwa bisa melihat dan mengenal lebih dekat keunikan dari kedua subfamili ini langsung di Zona Cakar Gembira Loka Zoo. Untuk klan kucing besar atau subfamili Pantherinae, Gembira Loka Zoo memiliki koleksi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Singa (Panthera leo), dan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Sedangkan untuk klan kucing kecil hingga sedang dari subfamili Felinae, Sobat Satwa dapat menjumpai Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus), Karakal (Caracal caracal), dan Serval (Leptailurus serval).Momen Hari Kucing Sedunia ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian seluruh spesies kucing di dunia. Mari bersama-sama menjaga habitat alami mereka serta mendukung upaya konservasi demi menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Sampai jumpa di Gembira Loka Zoo, Sobat Satwa!Penulis: Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: Wild Cat Family. Panthera Lineage & Felidae Classification. Diakses dari https://www.wildcatfamily.com/panthera-lineage/

img
World Nature Conservation Day: Bersama Menjaga Satwa untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Halo Sobat Satwa! Setiap tanggal 28 Juli, dunia memperingati World Nature Conservation Day sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan sumber daya bumi. Peringatan ini mengajak kita untuk semakin peduli terhadap lingkungan melalui berbagai upaya berkelanjutan, mulai dari melindungi habitat alami hingga menjaga keberlangsungan hidup satwa liar. Di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran, kolaborasi dari berbagai pihak menjadi kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi bumi.Salah satu satwa yang menjadi perhatian dalam upaya konservasi adalah orangutan, primata endemik Indonesia yang populasinya di alam terus mengalami penurunan. Deforestasi, alih fungsi lahan, perburuan, serta konflik dengan manusia menjadi beberapa faktor yang mengancam kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, perlindungan terhadap orangutan tidak hanya berfokus pada pelestarian habitat, tetapi juga pada penerapan standar kesejahteraan satwa yang semakin baik.Sebagai Lembaga Konservasi, Gembira Loka Zoo berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian satwa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peningkatan standar pengelolaan yang mengacu pada praktik terbaik internasional, sebagai bagian dari roadmap menuju keanggotaan World Association of Zoos and Aquariums (WAZA).Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah rencana penghentian partisipasi orangutan Desi dalam Presentasi Edukasi Satwa (PES) Mamalia. Dengan penghentian ini, Desi diharapkan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengekspresikan perilaku alaminya, sehingga kesejahteraannya dapat terus terjaga sesuai dengan prinsip konservasi modern yang mengutamakan kebutuhan satwa.Peringatan World Nature Conservation Day menjadi momentum untuk mengingatkan kita bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa dari kepunahan, tetapi juga memastikan setiap satwa mendapatkan kehidupan yang layak sesuai dengan perilaku alaminya. Mari bersama-sama mendukung upaya pelestarian alam dan satwa, karena setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan membawa dampak besar bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati di masa depan.------Hello, Animal Lovers! Every year on July 28, the world celebrates World Nature Conservation Day as a reminder of the importance of protecting our planet's natural resources and preserving biodiversity. This global observance encourages people to adopt sustainable practices and take collective action to address environmental challenges such as climate change, biodiversity loss, and pollution.One of the wildlife species that deserves our attention is the orangutan, an endemic primate of Indonesia whose population continues to decline in the wild. Habitat loss, deforestation, poaching, and human-wildlife conflict remain some of the greatest threats to its survival. Therefore, orangutan conservation is not only about protecting their natural habitats but also about ensuring their welfare under the highest standards of animal care.As a conservation institution, Gembira Loka Zoo is committed to supporting wildlife conservation while continuously improving animal welfare standards. This commitment is reflected in the zoo's efforts to implement international best practices as part of its roadmap toward membership in the World Association of Zoos and Aquariums (WAZA).One of these efforts is the planned retirement of Desi, an orangutan at Gembira Loka Zoo, from the Mammal Animal Education Presentation (PES). This decision will allow Desi to express her natural behaviors more freely and enjoy an environment that better supports her physical and psychological well-being, in line with the principles of modern conservation and animal welfare.On this World Nature Conservation Day, let us remember that conservation is not only about preventing wildlife from becoming extinct. It is also about ensuring that every animal can live in conditions that support its natural behaviors and overall well-being. Together, we can contribute to protecting wildlife and preserving nature for future generations. Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada Referensi:Wibawana, W. A. (2025, July 28). Hari Konservasi Alam Sedunia 28 Juli: Tujuan dan cara merayakan. Detiknews.

img
Hari Ular Sedunia: Fakta dan Mitos tentang Ular, Mana yang Benar?

Halo Sobat Satwa! Saat mendengar kata ular, banyak orang langsung merasa takut. Tidak sedikit pula anggapan yang berkembang di masyarakat, seperti semua ular berbisa, ular selalu mengejar manusia, atau kulit ular berlendir. Padahal, sebagian besar anggapan tersebut hanyalah mitos. Dalam rangka memperingati Hari Ular Sedunia setiap tanggal 16 Juli, yuk kenali beberapa fakta tentang ular agar kita semakin memahami peran penting satwa ini di alam.Salah satu anggapan yang paling sering terdengar adalah bahwa semua ular berbisa. Faktanya, dari lebih dari 4.000 jenis ular di dunia, hanya sekitar 600 jenis yang memiliki bisa, dan hanya sebagian kecil yang benar-benar berbahaya bagi manusia. Sebagian besar ular justru tidak berbisa dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.Banyak orang juga percaya bahwa ular selalu mengejar manusia untuk menyerang. Padahal, ular pada dasarnya akan menghindari manusia. Gigitan biasanya terjadi ketika ular merasa terganggu, terpojok, atau sedang mempertahankan diri. Oleh karena itu, menjaga jarak dan tidak mengganggu ular merupakan langkah terbaik apabila bertemu satwa ini di alam.Anggapan lain yang sering muncul adalah kulit ular berlendir dan bentuk kepala segitiga menandakan ular pasti berbisa. Faktanya, kulit ular bersifat kering dan diselimuti sisik, bukan berlendir seperti amfibi. Selain itu, bentuk kepala tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah seekor ular berbisa atau tidak karena beberapa ular tidak berbisa juga memiliki bentuk kepala yang menyerupai segitiga.Tidak sedikit pula yang menganggap ular sebagai hama yang harus dibunuh. Padahal, ular merupakan pemangsa alami yang membantu mengendalikan populasi tikus dan hewan pengerat lainnya. Peran tersebut sangat penting untuk menjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan pertanian.Melalui peringatan Hari Ular Sedunia, mari kita mengenal ular berdasarkan fakta, bukan mitos. Dengan memahami peran pentingnya di alam, kita dapat mengurangi kesalahpahaman terhadap satwa ini sekaligus meningkatkan kepedulian untuk menjaga kelestariannya. Selamat memperingati Hari Ular Sedunia, Sobat Satwa!Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada Referensi:Sulthoni. (2023, July 15). Sejarah Hari Ular Sedunia 16 Juli dan alasan peringatannya. Tirto.id.https://tirto.id/sejarah-hari-ular-sedunia-16-juli-dan-alasan-peringatannya-gMZWRahmat, A. A. (2026, July 1). 5 mitos tentang ular berbisa yang tak terbukti secara ilmiah. IDN Times.https://www.idntimes.com/science/discovery/5-mitos-tentang-ular-berbisa-yang-tak-terbukti-secara-ilmiah-c1c2-01-b11wj-2ncmctRahmat, A. A. (2026, July 1). Apakah semua ular berbahaya bagi manusia?. IDN Times. https://www.idntimes.com/science/discovery/apakah-semua-ular-berbahaya-bagi-manusia-c1c2-01-b11wj-0rm8w3

img
Hoaks atau Fakta: Manusia 98% Mirip dengan Simpanse?

Sobat Satwa sering bertanya-tanya tidak, sih? Apakah benar nenek moyang kita itu seekor monyet? Pertanyaan ini sering muncul karena perawakan beberapa primata memang terlihat sedikit mirip dengan perawakan kita sebagai manusia. Sebenarnya, manusia tidak berevolusi dari monyet. Namun, manusia dan semua satwa primata memang memiliki tingkat kekerabatan dan kemiripan yang sangat tinggi. Dalam rangka memperingati World Chimpanzee Day atau Hari Simpanse Sedunia, yuk kita simak seberapa dekat dan miripnya kita dengan salah satu sobat primata tercerdas ini.Secara ilmiah, Simpanse (Pan troglodytes) merupakan salah satu primata yang dikenal sangat cerdas. Menariknya, berbagai penelitian genetika modern menemukan fakta bahwa simpanse memiliki kesamaan material genetik atau DNA hingga sekitar 98% dengan manusia. Angka yang menakjubkan ini mengonfirmasi bahwa secara filogenetik, manusia dan simpanse memang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dalam pohon evolusi makhluk hidup di bumi.Namun, kesamaan DNA yang sangat masif ini bukan berarti manusia dan simpanse harus memiliki kemiripan fisik atau perilaku yang identik. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa perbedaan kecil sekitar 1,5% hingga 2% pada tingkat molekuler justru mampu menghasilkan dampak yang sangat besar pada bentuk tubuh, kemampuan berpikir, hingga perilaku sehari-hari. Perbedaan karakter fisik maupun perilaku antara manusia dan simpanse ini semakin terlihat jelas di masa sekarang karena kedua spesies telah menempuh jalur garis evolusi yang terpisah selama jutaan tahun lamanya.Dengan tingkat kesamaan genetik yang sangat tinggi tersebut, simpanse diposisikan sebagai salah satu spesies paling krusial dalam dunia penelitian evolusi dan biologi manusia. Mempelajari simpanse secara tidak langsung membantu para ilmuwan memahami sejarah perkembangan genetik serta asal-usul biologis kita sendiri sebagai manusia. Tentu saja, seiring berkembangnya metode penelitian dan teknologi analisis genetika yang jauh lebih presisi dari waktu ke waktu, estimasi angka persentase kemiripan DNA antara manusia dan simpanse ini masih bisa terus dinamis dan diperbarui oleh para ahli di masa depan.Pada akhirnya, angka kemiripan 98% ini bukan sekadar deretan data di atas kertas laboratorium, melainkan sebuah cermin besar bagi kita. Angka ini mengingatkan bahwa batas antara manusia modern dengan alam liar sebenarnya sangatlah tipis.Menjaga kelestarian simpanse di habitatnya bukan lagi sekadar aksi penyelamatan satwa langka, melainkan cara kita menghormati separuh "kembaran" biologis kita yang masih tersisa di bumi. Jadi, alih-alih merasa asing, yuk jadikan World Chimpanzee Day ini sebagai momentum untuk lebih peduli dan ikut melindungi ruang hidup mereka.Penulis: Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: Lanni, F. (2004). Hubungan kekerabatan manusia dan simpanse jauh atau dekat? Biota, 9(1), 65–66. Diakses dari https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2833Mongabay Indonesia. (2023, 15 Juli). Suara Simpanse dan Manusia Sama dalam Perkara Ini. Mongabay.co.id. Diakses dari https://mongabay.co.id/2023/07/15/suara-simpanse-dan-manusia-sama-dalam-perkara-ini/

WhatsApp