Loading...
img

Berita Terkini

img
Ikatan Kuat Orang Utan dan Bayinya: Belajar Bertahan Hidup dari Sang Induk

Di balik tatapan tenang seekor orang utan, terdapat sebuah proses panjang dalam membesarkan generasi berikutnya. Orang utan (Pongo spp.) dikenal memiliki ikatan yang sangat kuat antara induk dan anak. Hubungan tersebut bukan sekadar ikatan kasih sayang, tetapi menjadi bagian penting dari proses belajar dan bertahan hidup di alam liar.Selalu Dekat pada Tahun-Tahun PertamaPada masa awal kehidupannya, bayi orang utan hampir selalu berada di dekat induknya. Dalam sekitar dua tahun pertama, bayi orang utan akan berpegangan erat pada tubuh induknya ketika mereka berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.Kemampuan untuk bergantung dan berpegangan pada induk sangat penting bagi bayi orang utan yang hidup di lingkungan hutan. Kanopi pepohonan merupakan tempat utama bagi orang utan untuk beraktivitas, mencari makanan, beristirahat, dan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.Seiring bertambahnya usia, bayi mulai menjadi lebih aktif dan berani menjelajah di sekitar induknya. Namun, sang induk tetap menjadi tempat berlindung sekaligus sumber pembelajaran utama.Belajar dari Sang IbuHubungan antara induk dan anak orang utan berlangsung selama bertahun-tahun. Anak orang utan dapat sangat bergantung pada induknya hingga sekitar usia 6–7 tahun, bahkan proses belajar dan interaksi dengan induk dapat berlangsung lebih lama.Selama masa tersebut, induk mengajarkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan anak untuk hidup mandiri. Anak belajar mengenali berbagai jenis makanan, mengetahui bagian tumbuhan yang dapat dimakan, menemukan sumber makanan, serta memahami cara berpindah dan beraktivitas dengan aman di antara pepohonan.Anak juga belajar dengan cara mengamati perilaku induknya. Mereka mengikuti, memperhatikan, kemudian mencoba melakukan sendiri berbagai hal yang dilakukan oleh sang induk.Dengan demikian, induk bukan hanya berperan sebagai pelindung, tetapi juga sebagai “guru” pertama bagi anaknya.Masa Kanak-Kanak yang PanjangDibandingkan banyak mamalia lainnya, orang utan memiliki masa kanak-kanak yang sangat panjang. Hal ini berkaitan erat dengan banyaknya keterampilan yang harus dikuasai sebelum mereka benar-benar mampu hidup mandiri.Hutan merupakan lingkungan yang kompleks. Untuk bertahan hidup, orang utan perlu memiliki kemampuan mengenali sumber makanan, memahami lingkungan, berpindah di antara pepohonan, serta mengambil keputusan yang tepat ketika menghadapi berbagai situasi.Proses tersebut tidak dapat dikuasai dalam waktu singkat. Karena itu, anak orang utan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk belajar dari induknya sebelum akhirnya mampu menjalani kehidupan secara mandiri.Ikatan yang Menjadi Bekal untuk Bertahan HidupKedekatan antara induk dan bayi orang utan menunjukkan bahwa hubungan sosial memiliki peran penting dalam kehidupan satwa. Ikatan yang kuat memberikan rasa aman bagi anak sekaligus menciptakan kesempatan untuk belajar secara langsung dari individu yang lebih berpengalaman.Setiap gerakan, pilihan makanan, dan cara berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya merupakan bagian dari proses pembelajaran.Masa kanak-kanak yang panjang bukan berarti orang utan terlambat berkembang. Justru, lamanya masa tersebut menunjukkan betapa kompleksnya keterampilan yang perlu mereka kuasai untuk dapat bertahan hidup di alam liar.Dari pelukan sang induk hingga keberanian menjelajah sendiri, setiap tahap pertumbuhan merupakan bagian dari perjalanan panjang seekor orang utan untuk menjadi mandiri.Tahukah Sobat Satwa?Orang utan memiliki salah satu periode ketergantungan anak-induk terpanjang di antara primata. Lamanya hubungan ini memungkinkan anak mendapatkan waktu yang cukup untuk mempelajari berbagai keterampilan penting sebelum hidup mandiri.Penulis: Leonardus Wical Zelena ArgaSumber:Smithsonian's National Zoo & Conservation Biology Institute — OrangutanWorld Wildlife Fund (WWF) — OrangutanInternational Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List — Pongo spp.Rijksen, H. D. (1978). A Field Study on Sumatran Orang Utans (Pongo pygmaeus abelii Lesson 1827). Wageningen University.

img
Rahasia Sehatnya Sang Raja: Mengenal Perawatan Singa Afrika

Singa Afrika (Panthera leo) merupakan salah satu predator besar yang memiliki karakteristik dan kebutuhan perawatan khusus. Sobat Satwa, tahukah kamu bahwa menjaga kesehatan dan kesejahteraan singa membutuhkan berbagai bentuk perawatan? Di Gembira Loka Zoo, perawatan singa dilakukan melalui beberapa aspek, mulai dari kebersihan kandang, pemberian pakan, enrichment, hingga pemeriksaan kesehatan secara berkala.Kebersihan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan singa. Kandang exhibit dan kandang tidur atau Back of House (BOH) dibersihkan secara rutin setiap hari. Lingkungan yang bersih membantu menjaga kenyamanan dan kesehatan satwa selama berada dalam perawatan.Sebagai satwa karnivora, singa membutuhkan asupan makanan yang sesuai dengan kebutuhan hariannya. Setiap hari, singa mendapatkan sekitar 4-6,5 kg daging, yang umumnya berupa daging kerbau dan ayam. Selain pengaturan pakan, singa juga mendapatkan jadwal puasa sebanyak dua kali dalam seminggu sebagai bagian dari pengelolaan pola makan dan perawatan satwa.Perawatan singa tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik. Enrichment juga diberikan secara rutin untuk memberikan stimulasi dan mendorong munculnya perilaku alami. Salah satunya menggunakan hessian bag untuk merangsang indra penciuman. Daging juga dapat dibalut dengan alang-alang untuk mendorong perilaku mencari makan, eksplorasi, dan pemecahan masalah.Kesehatan singa juga dipantau melalui Medical Check-Up (MCU). Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan fisik, darah, X-ray, USG, serta pemeriksaan kesehatan gigi. MCU biasanya berlangsung selama 1-2 jam dan dapat dilakukan di kandang tidur, terutama untuk satwa berukuran besar, atau di klinik sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan.Sebelum MCU dilakukan, singa diberikan anestesi melalui suntikan pada bagian paha kaki belakang. Setelah pemeriksaan selesai, singa akan diobservasi selama beberapa jam untuk memastikan kondisinya tetap stabil dan efek anestesi mulai berkurang. Setelah kondisinya dinilai cukup pulih, singa baru diperbolehkan makan dan minum.Berbagai bentuk perawatan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan singa. Perawatan yang dilakukan secara rutin dan terencana membantu memastikan kebutuhan fisik serta perilaku satwa tetap terpenuhi.Melalui World Lion Day yang diperingati setiap 10 Agustus, mengenal lebih dekat perawatan singa dapat menjadi salah satu langkah untuk memahami pentingnya menjaga kesejahteraan satwa. Jadi, Sobat Satwa, di balik sosoknya sebagai predator besar, singa juga membutuhkan perawatan yang kompleks dan penanganan yang tepat untuk mendukung kesehatan serta kesejahteraannya.Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: REACHFAR. (n.d.). Prinsip dasar perawatan singa di lingkungan terkontrol.https://reachfar.org/prinsip-dasar-perawatan-singa-di-lingkungan-terkontrol/

img
Sama-Sama Kucing, Tapi Beda Klan: Mengenal Kekerabatan Kucing Domestik dan Harimau

Pernahkah Sobat Satwa memperhatikan tingkah kucing peliharaan di rumah yang suka meregangkan badan, mengasah kuku, atau mengendap-endap saat mengejar mainan? Gerakan-gerakan khas tersebut sangat mirip dengan gaya berburu Harimau di alam liar. Tak mengherankan, sebab Kucing domestik (Felis catus) dan Harimau (Panthera tigris) memang berada di bawah naungan famili yang sama, yaitu Felidae atau keluarga kucing-kucingan. Walaupun berbagi garis keturunan evolusi yang sama, ukuran tubuh, habitat, hingga perilaku keduanya berbeda cukup signifikan karena terbagi ke dalam dua subfamili yang berbeda.Harimau tergolong ke dalam subfamili Pantherinae yang mencakup 7 spesies kucing besar dunia, seperti Harimau, Singa, Jaguar, Macan Tutul (Leopard), Macan Tutul Salju (Snow Leopard), Macan Dahan (Clouded Leopard), dan Macan Dahan Sunda. Kelompok ini dikenal dengan ukuran tubuh yang besar, kekuatan fisik yang luar biasa, kemampuan berburu yang sangat tangguh, serta struktur tenggorokan khusus yang memungkinkan mereka untuk mengaum.Sementara itu, Kucing domestik yang sering kita jumpai sehari-hari masuk ke dalam subfamili Felinae. Subfamili ini mencakup sekitar 30 spesies kucing berukuran kecil hingga sedang, mulai dari kucing rumah hingga berbagai spesies kucing liar unik di berbagai belahan dunia. Berbeda dengan kelompok Pantherinae, anggota Felinae umumnya tidak dapat mengaum, melainkan berkomunikasi dengan suara mendengkur (purr).Dalam rangka memperingati World Cat Day, Sobat Satwa bisa melihat dan mengenal lebih dekat keunikan dari kedua subfamili ini langsung di Zona Cakar Gembira Loka Zoo. Untuk klan kucing besar atau subfamili Pantherinae, Gembira Loka Zoo memiliki koleksi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Singa (Panthera leo), dan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Sedangkan untuk klan kucing kecil hingga sedang dari subfamili Felinae, Sobat Satwa dapat menjumpai Kucing Bakau (Prionailurus viverrinus), Karakal (Caracal caracal), dan Serval (Leptailurus serval).Momen Hari Kucing Sedunia ini menjadi pengingat penting bagi kita untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian seluruh spesies kucing di dunia. Mari bersama-sama menjaga habitat alami mereka serta mendukung upaya konservasi demi menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Sampai jumpa di Gembira Loka Zoo, Sobat Satwa!Penulis: Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: Wild Cat Family. Panthera Lineage & Felidae Classification. Diakses dari https://www.wildcatfamily.com/panthera-lineage/

img
World Nature Conservation Day: Bersama Menjaga Satwa untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Halo Sobat Satwa! Setiap tanggal 28 Juli, dunia memperingati World Nature Conservation Day sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan sumber daya bumi. Peringatan ini mengajak kita untuk semakin peduli terhadap lingkungan melalui berbagai upaya berkelanjutan, mulai dari melindungi habitat alami hingga menjaga keberlangsungan hidup satwa liar. Di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran, kolaborasi dari berbagai pihak menjadi kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi bumi.Salah satu satwa yang menjadi perhatian dalam upaya konservasi adalah orangutan, primata endemik Indonesia yang populasinya di alam terus mengalami penurunan. Deforestasi, alih fungsi lahan, perburuan, serta konflik dengan manusia menjadi beberapa faktor yang mengancam kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, perlindungan terhadap orangutan tidak hanya berfokus pada pelestarian habitat, tetapi juga pada penerapan standar kesejahteraan satwa yang semakin baik.Sebagai Lembaga Konservasi, Gembira Loka Zoo berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian satwa. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peningkatan standar pengelolaan yang mengacu pada praktik terbaik internasional, sebagai bagian dari roadmap menuju keanggotaan World Association of Zoos and Aquariums (WAZA).Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah rencana penghentian partisipasi orangutan Desi dalam Presentasi Edukasi Satwa (PES) Mamalia. Dengan penghentian ini, Desi diharapkan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengekspresikan perilaku alaminya, sehingga kesejahteraannya dapat terus terjaga sesuai dengan prinsip konservasi modern yang mengutamakan kebutuhan satwa.Peringatan World Nature Conservation Day menjadi momentum untuk mengingatkan kita bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa dari kepunahan, tetapi juga memastikan setiap satwa mendapatkan kehidupan yang layak sesuai dengan perilaku alaminya. Mari bersama-sama mendukung upaya pelestarian alam dan satwa, karena setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini akan membawa dampak besar bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati di masa depan.------Hello, Animal Lovers! Every year on July 28, the world celebrates World Nature Conservation Day as a reminder of the importance of protecting our planet's natural resources and preserving biodiversity. This global observance encourages people to adopt sustainable practices and take collective action to address environmental challenges such as climate change, biodiversity loss, and pollution.One of the wildlife species that deserves our attention is the orangutan, an endemic primate of Indonesia whose population continues to decline in the wild. Habitat loss, deforestation, poaching, and human-wildlife conflict remain some of the greatest threats to its survival. Therefore, orangutan conservation is not only about protecting their natural habitats but also about ensuring their welfare under the highest standards of animal care.As a conservation institution, Gembira Loka Zoo is committed to supporting wildlife conservation while continuously improving animal welfare standards. This commitment is reflected in the zoo's efforts to implement international best practices as part of its roadmap toward membership in the World Association of Zoos and Aquariums (WAZA).One of these efforts is the planned retirement of Desi, an orangutan at Gembira Loka Zoo, from the Mammal Animal Education Presentation (PES). This decision will allow Desi to express her natural behaviors more freely and enjoy an environment that better supports her physical and psychological well-being, in line with the principles of modern conservation and animal welfare.On this World Nature Conservation Day, let us remember that conservation is not only about preventing wildlife from becoming extinct. It is also about ensuring that every animal can live in conditions that support its natural behaviors and overall well-being. Together, we can contribute to protecting wildlife and preserving nature for future generations. Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada Referensi:Wibawana, W. A. (2025, July 28). Hari Konservasi Alam Sedunia 28 Juli: Tujuan dan cara merayakan. Detiknews.

img
Hari Ular Sedunia: Fakta dan Mitos tentang Ular, Mana yang Benar?

Halo Sobat Satwa! Saat mendengar kata ular, banyak orang langsung merasa takut. Tidak sedikit pula anggapan yang berkembang di masyarakat, seperti semua ular berbisa, ular selalu mengejar manusia, atau kulit ular berlendir. Padahal, sebagian besar anggapan tersebut hanyalah mitos. Dalam rangka memperingati Hari Ular Sedunia setiap tanggal 16 Juli, yuk kenali beberapa fakta tentang ular agar kita semakin memahami peran penting satwa ini di alam.Salah satu anggapan yang paling sering terdengar adalah bahwa semua ular berbisa. Faktanya, dari lebih dari 4.000 jenis ular di dunia, hanya sekitar 600 jenis yang memiliki bisa, dan hanya sebagian kecil yang benar-benar berbahaya bagi manusia. Sebagian besar ular justru tidak berbisa dan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.Banyak orang juga percaya bahwa ular selalu mengejar manusia untuk menyerang. Padahal, ular pada dasarnya akan menghindari manusia. Gigitan biasanya terjadi ketika ular merasa terganggu, terpojok, atau sedang mempertahankan diri. Oleh karena itu, menjaga jarak dan tidak mengganggu ular merupakan langkah terbaik apabila bertemu satwa ini di alam.Anggapan lain yang sering muncul adalah kulit ular berlendir dan bentuk kepala segitiga menandakan ular pasti berbisa. Faktanya, kulit ular bersifat kering dan diselimuti sisik, bukan berlendir seperti amfibi. Selain itu, bentuk kepala tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah seekor ular berbisa atau tidak karena beberapa ular tidak berbisa juga memiliki bentuk kepala yang menyerupai segitiga.Tidak sedikit pula yang menganggap ular sebagai hama yang harus dibunuh. Padahal, ular merupakan pemangsa alami yang membantu mengendalikan populasi tikus dan hewan pengerat lainnya. Peran tersebut sangat penting untuk menjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan pertanian.Melalui peringatan Hari Ular Sedunia, mari kita mengenal ular berdasarkan fakta, bukan mitos. Dengan memahami peran pentingnya di alam, kita dapat mengurangi kesalahpahaman terhadap satwa ini sekaligus meningkatkan kepedulian untuk menjaga kelestariannya. Selamat memperingati Hari Ular Sedunia, Sobat Satwa!Penulis:Anisah Hafizhah Fillah MansyuruddinBahasa Inggris, Universitas Gadjah Mada Referensi:Sulthoni. (2023, July 15). Sejarah Hari Ular Sedunia 16 Juli dan alasan peringatannya. Tirto.id.https://tirto.id/sejarah-hari-ular-sedunia-16-juli-dan-alasan-peringatannya-gMZWRahmat, A. A. (2026, July 1). 5 mitos tentang ular berbisa yang tak terbukti secara ilmiah. IDN Times.https://www.idntimes.com/science/discovery/5-mitos-tentang-ular-berbisa-yang-tak-terbukti-secara-ilmiah-c1c2-01-b11wj-2ncmctRahmat, A. A. (2026, July 1). Apakah semua ular berbahaya bagi manusia?. IDN Times. https://www.idntimes.com/science/discovery/apakah-semua-ular-berbahaya-bagi-manusia-c1c2-01-b11wj-0rm8w3

img
Hoaks atau Fakta: Manusia 98% Mirip dengan Simpanse?

Sobat Satwa sering bertanya-tanya tidak, sih? Apakah benar nenek moyang kita itu seekor monyet? Pertanyaan ini sering muncul karena perawakan beberapa primata memang terlihat sedikit mirip dengan perawakan kita sebagai manusia. Sebenarnya, manusia tidak berevolusi dari monyet. Namun, manusia dan semua satwa primata memang memiliki tingkat kekerabatan dan kemiripan yang sangat tinggi. Dalam rangka memperingati World Chimpanzee Day atau Hari Simpanse Sedunia, yuk kita simak seberapa dekat dan miripnya kita dengan salah satu sobat primata tercerdas ini.Secara ilmiah, Simpanse (Pan troglodytes) merupakan salah satu primata yang dikenal sangat cerdas. Menariknya, berbagai penelitian genetika modern menemukan fakta bahwa simpanse memiliki kesamaan material genetik atau DNA hingga sekitar 98% dengan manusia. Angka yang menakjubkan ini mengonfirmasi bahwa secara filogenetik, manusia dan simpanse memang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dalam pohon evolusi makhluk hidup di bumi.Namun, kesamaan DNA yang sangat masif ini bukan berarti manusia dan simpanse harus memiliki kemiripan fisik atau perilaku yang identik. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa perbedaan kecil sekitar 1,5% hingga 2% pada tingkat molekuler justru mampu menghasilkan dampak yang sangat besar pada bentuk tubuh, kemampuan berpikir, hingga perilaku sehari-hari. Perbedaan karakter fisik maupun perilaku antara manusia dan simpanse ini semakin terlihat jelas di masa sekarang karena kedua spesies telah menempuh jalur garis evolusi yang terpisah selama jutaan tahun lamanya.Dengan tingkat kesamaan genetik yang sangat tinggi tersebut, simpanse diposisikan sebagai salah satu spesies paling krusial dalam dunia penelitian evolusi dan biologi manusia. Mempelajari simpanse secara tidak langsung membantu para ilmuwan memahami sejarah perkembangan genetik serta asal-usul biologis kita sendiri sebagai manusia. Tentu saja, seiring berkembangnya metode penelitian dan teknologi analisis genetika yang jauh lebih presisi dari waktu ke waktu, estimasi angka persentase kemiripan DNA antara manusia dan simpanse ini masih bisa terus dinamis dan diperbarui oleh para ahli di masa depan.Pada akhirnya, angka kemiripan 98% ini bukan sekadar deretan data di atas kertas laboratorium, melainkan sebuah cermin besar bagi kita. Angka ini mengingatkan bahwa batas antara manusia modern dengan alam liar sebenarnya sangatlah tipis.Menjaga kelestarian simpanse di habitatnya bukan lagi sekadar aksi penyelamatan satwa langka, melainkan cara kita menghormati separuh "kembaran" biologis kita yang masih tersisa di bumi. Jadi, alih-alih merasa asing, yuk jadikan World Chimpanzee Day ini sebagai momentum untuk lebih peduli dan ikut melindungi ruang hidup mereka.Penulis: Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi: Lanni, F. (2004). Hubungan kekerabatan manusia dan simpanse jauh atau dekat? Biota, 9(1), 65–66. Diakses dari https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota/article/view/2833Mongabay Indonesia. (2023, 15 Juli). Suara Simpanse dan Manusia Sama dalam Perkara Ini. Mongabay.co.id. Diakses dari https://mongabay.co.id/2023/07/15/suara-simpanse-dan-manusia-sama-dalam-perkara-ini/

img
Gembira Loka Zoo Tingkatkan Standar Pelayanan Medis Satwa melalui Pelatihan Anestesi Gas bersama FKH UGM

Yogyakarta – Gembira Loka Zoo terus berkomitmen meningkatkan standar pelayanan kesehatan dan kesejahteraan satwa melalui pembaruan fasilitas medis. Komitmen tersebut diwujudkan dengan menghadirkan perangkat anestesi gas terbaru beserta perlengkapan pendukungnya, seperti ventilator, patient monitor, dan syringe pump, yang mampu mendukung tindakan medis secara lebih aman dan akurat.Sebagai bagian dari implementasi penggunaan teknologi tersebut, Gembira Loka Zoo menyelenggarakan pelatihan anestesi gas yang menghadirkan drh. Dito Anggoro, M.Sc., Ph.D., dokter hewan anestesiologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) sekaligus Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi UGM. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh dokter hewan dan paramedis Gembira Loka Zoo, serta mengundang sejumlah lembaga konservasi dan mitra profesi, di antaranya Jatim Park, Cikananga Wildlife Center, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YARI), COP, Klinik Hewan PetVille, dan Dji'O Pet Care.Materi yang diberikan meliputi prinsip kerja anestesi gas, pengoperasian mesin anestesi, penggunaan ventilator, hingga interpretasi berbagai parameter vital yang ditampilkan pada patient monitor, seperti detak jantung, tekanan darah, kadar oksigen, dan laju pernapasan. Kemampuan memahami data tersebut menjadi aspek penting dalam menjaga stabilitas kondisi satwa selama menjalani anestesi.Sebagai bagian dari sesi praktik, peserta melakukan pendampingan penggunaan alat saat seekor beruang madu menjalani pemeriksaan kesehatan (medical check-up) rutin. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengoperasikan peralatan pada kondisi klinis nyata, sekaligus memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai standar medis dan mengutamakan kesejahteraan satwa.Dokter Satwa Gembira Loka Zoo, drh. Randy Kusuma menjelaskan bahwa pengadaan peralatan baru ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan pasien satwa selama menjalani tindakan medis."Peralatan ini bukan sekadar pembaruan teknologi, tetapi merupakan upaya kami untuk meningkatkan standar pelayanan kesehatan satwa. Dengan adanya ventilator dan patient monitor, tim medis dapat memantau kondisi fisiologis satwa secara real time selama anestesi sehingga setiap perubahan dapat segera direspons. Harapan kami, tingkat keselamatan satwa saat menjalani operasi maupun prosedur medis lainnya akan semakin meningkat," ujar drh. Randy Kusuma saat dikonfirmasi, Minggu (12 Juli 2026).Ia menambahkan bahwa pelatihan ini tidak hanya ditujukan bagi tenaga medis Gembira Loka Zoo, tetapi juga menjadi sarana berbagi ilmu dengan sesama lembaga konservasi di Indonesia."Kami ingin perkembangan teknologi medis ini memberikan manfaat yang lebih luas. Karena itu kami mengundang berbagai lembaga konservasi dan rekan sejawat untuk belajar bersama. Kolaborasi seperti ini penting agar standar pelayanan kesehatan satwa di berbagai institusi konservasi dapat terus berkembang," tambahnya.Pelatihan ini juga menghadirkan drh. Dito Anggoro, M.Sc., Ph.D.  sebagai narasumber karena memiliki kompetensi di bidang anestesiologi veteriner sekaligus berpengalaman dalam penggunaan perangkat anestesi modern. Kehadirannya diharapkan mampu memastikan seluruh peserta memahami prosedur penggunaan alat secara tepat dan sesuai standar keselamatan.Melalui peningkatan fasilitas medis, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan berbagai institusi, Gembira Loka Zoo terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi satwa sekaligus mendukung pengembangan ilmu kedokteran satwa liar di Indonesia.Penulis:Leonardus Wical Zelena ArgaHead of Public Relations and Marketing Communications

img
Hari Kapibara Sedunia: Mengenal Si Pengerat Terbesar di Dunia

Halo Sobat Satwa! Setiap tanggal 10 Juli, dunia memperingati Hari Kapibara Sedunia, satwa pengerat terbesar di dunia yang terkenal dengan sikapnya yang santai dan bersahabat dengan hampir semua makhluk hidup, termasuk manusia.Nama ilmiah kapibara, Hydrochoerus hydrochaeris, mencerminkan kedekatannya dengan air. Kapibara merupakan hewan semi-akuatik yang banyak ditemukan di kawasan berair seperti sungai, danau, rawa, serta lahan basah di berbagai wilayah Amerika Selatan. Mereka menghabiskan banyak waktu di sekitar air untuk mencari makan dan beristirahat.Selain itu, kapibara memiliki kehidupan sosial yang erat. Dalam satu kelompok umumnya terdapat 10–50 individu dengan ikatan sosial yang kuat. Kapibara sering terlihat beristirahat, bermain, saling merawat tubuh (grooming), serta berkomunikasi melalui berbagai suara untuk menjaga kekompakan kelompok. Mereka juga paling aktif pada pagi dan sore hari, sedangkan siang hari biasanya dimanfaatkan untuk beristirahat di dekat perairan.Kapibara berkembang biak dengan cara melahirkan, dengan masa kehamilan berlangsung sekitar 120 hingga 150 hari. Dalam sekali beranak, induk kapibara bisa melahirkan 2 sampai 8 ekor anakan sekaligus. Menariknya, anakan kapibara lahir dalam kondisi yang sudah berkembang dengan baik, lengkap dengan rambut, mata terbuka, dan gigi yang telah tumbuh. Tak lama setelah lahir, mereka sudah mampu berdiri dan berjalan sendiri.Perkembangan anakan kapibara berlangsung cukup pesat. Pada usia sekitar satu minggu, mereka sudah mulai memakan rumput seperti kapibara dewasa. Masa penyapihan berlangsung sekitar tiga bulan. Meskipun begitu, anak kapibara tetap tinggal bersama kelompoknya hingga berusia sekitar satu tahun untuk belajar hidup secara berkelompok.Salah satu kebiasaan menggemaskan yang sering menarik perhatian pengunjung zoo adalah anakan kapibara suka berjemur di bawah sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya. Kebiasaan ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri saat mengamati kapibara di habitatnya.Bersamaan dengan momen Hari Kapibara Sedunia, mari bersama-sama menjaga kelestarian kapibara dan habitat alaminya. Kehidupan berkelompok kapibara mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam demi generasi mendatang. Selamat Hari Kapibara Sedunia!Penulis:Saffana Firdausy Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi:Matthews, K. A-Z Animals. (2024). Are Capybaras the Biggest Rodents in the World? (Apakah Kapibara Merupakan Hewan Pengerat Terbesar di Dunia?). https://a-z-animals.com/blog/are-capybaras-the-biggest-rodents-in-the-world/Encyclopedia. (2024). Capybara (Hydrochoerus hydrochaeris). https://encyclopedia.pub/entry/58611

img
Rahasia "Gigi Abadi" Buaya Senyulong, Si Pemalu Penghuni Gembira

Halo Sobat Satwa! Kalau manusia hanya bisa menumbuhkan giginya sebanyak dua kali seumur hidup, satwa eksotis nan pemalu ini tidak pernah ompong karena mampu menumbuhkan 80 giginya sampai 50 kali sepanjang hidupnya, lho! Dalam rangka menyambut tanggal 17 Juni 2026 yang ditetapkan sebagai Hari Buaya Sedunia, yuk kita berkenalan dengan salah satu jenis buaya di Gembira Loka Zoo, yaitu Buaya Senyulong! Buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii) merupakan buaya yang tinggal di rawa gambut, sungai pedalaman, maupun perairan tawar yang tenang lainnya dan cenderung menghindari permukiman manusia. Karena itu, Buaya Senyulong disebut dengan buaya pemalu! Populasinya tersebar di wilayah Indonesia—tepatnya di Pulau Kalimantan, Sumatra, Jawa—serta beberapa kawasan di Negara Malaysia dan Brunei. Statusnya dalam Daftar Merah IUCN (International Union and Conservation Nature) kini terancam punah (Endangered). Diperkirakan populasinya tersisa 2.500 ekor Buaya Senyulong di seluruh dunia akibat hilangnya habitat arena deforestasi besar-besaran.Dibalik statusnya yang kini terancam punah, buaya bermoncong pipih panjang ini termasuk hewan polyphyodont yang mampu menumbuhkan gigi baru di sepanjang hidupnya. Buaya Senyulong dapat bertahan hidup hingga usia rata-rata 35 sampai 75 tahun dan meregenerasi 80 giginya sebanyak 50 kali.Di bawah setiap gigi buaya, sebenarnya sudah ada gigi pengganti kecil dan jaringan sel punca (stem cells) yang mengantri di dalam gusi. Jadi, buaya sudah menyiapkan "pasukan cadangan" sejak awal tepat sebelum gigi buaya ompong. Begitu gigi utama lepas saat berburu, ruang kosong tersebut secara otomatis memicu jaringan gusi untuk mendorong gigi pengganti naik ke permukaan. Bersamaan dengan itu, sel punca di bawahnya langsung memproduksi bakal gigi baru untuk antrian berikutnya hingga 50 kali seumur hidup. Kemampuan tersebut menjadi senjata utama buaya untuk bertahan hidup di alam liar. Buaya Senyulong tidak mengunyah mangsanya melainkan mencabik dan merobeknya, sehingga giginya rentan mengalami keausan, patah, ataupun rusak saat menjepit mangsa.Melalui momen Hari Buaya Sedunia ini, mari kita tingkatkan kepedulian terhadap kelestarian Buaya Senyulong. Sesuai dengan tujuan dicetuskannya World Croc Day sejak tanggal 17 Juni 2017 oleh Crocodile Research Coalition (CRC), yuk bersama-sama kita jaga habitat aslinya agar si pemilik "gigi abadi" ini bisa terus lestari di sungai-sungai Nusantara. Selamat Hari Buaya Sedunia!Penulis:Nahara Kana Taqiyya Nugraha Bahasa Inggris, Universitas Gadjah MadaReferensi:Crocodile Research Coalition (CRC). (2017). World Croc Day. Diakses dari https://crocodileresearchcoalition.org/world-croc-day Hananto, A. (2026, 10 Juni). Senyulong, Buaya Pemalu yang Habitatnya Menghilang dan Kini Terpaksa Mendekati Manusia. Mongabay.co.id. Diakses dari https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/senyulong-buaya-pemalu-yang-habitatnya-menghilang-dan-kini-terpaksa-mendekati-manusia/ Al Khair, Y. I. (2021, 6 Mei). Buaya Senyulong, Reptil Pemalu Penghuni Perairan Rawa. Greeners.Co. Diakses dari https://www.greeners.co/flora-fauna/buaya-senyulong-reptil-pemalu-penghuni-perairan-rawa/ Nuwer, R. (2013, 13 Mei). Solving an Alligator Mystery May Help Humans Regrow Lost Teeth (Memecahkan Misteri Aligator yang Mungkin Dapat Membantu Manusia Menumbuhkan Kembali Gigi yang Tanggal). Smithsonianmag.com. Diakses dari https://www.smithsonianmag.com/science-nature/solving-an-alligator-mystery-may-help-humans-regrow-lost-teeth-60257334/

WhatsApp